Kang Itmam IAIN Salatiga
  • KEBUTUHAN LITERASI ANAK

    oleh : Itmamudin

    Salatiga, 10 Juni 2014

    Pengertian Literasi Informasi

    Literasi informasi pertama kali dikemukakan oleh Paul G.Zurkowski pada tahun 1974 yang merupakan seorang pemimpin sebuah organisasi informasi di amerika yang dikenal dengan American Information Industry Association. Dalam proposalnya yang ditujukan kepada The National Commission on Libraries and Information Science (NCLIS) di Amerika Serikat, Paul Zurkowski menggunakan ungkapan literasi informasi untuk menggambarkan “teknik dan kemampuan” yang dikenal dengan istilah literasi informasi yaitu kemampuan untuk memanfaatkan berbagai alat-alat informasi serta sumber-sumber informasi  primer untuk memecahkan masalah  mereka.  Istilah literasi informasi  selalu dikaitkan dengan computer literacy, library skills dan critical thinking yang merupakan pendukung terhadap perkembangan literasi informasi.

    Literasi informasi secara umum diartikan sebagai kemelekan atau keberaksaraan informasi. Menurut kamus bahasa inggris pengertian literacy adalah kemelekan huruf atau kemampuan membaca dan Information adalah informasi.  Maka literasi informasi adalah kemelekan terhadap informasi. Saat ini istilah literasi informasi belum begitu familiar dan menjadi istilah yang asing di kalangan masyarakat, dan seseorang dikatakan melek informasi dapat dikatakan sama dengan istilah orang yang sudah literat terhadap informasi. Walaupun saat ini literasi informasi biasanya selalu dikaitkan dengan penggunaan perpustakaan dan penggunaan teknologi informasi.

    Menurut Bundy dalam Hasugian (2009:200) Literasi informasi merupakan seperangkat keterampilan yang diperlukan untuk mencari, menganalisis dan memanfaatkan informasi. Tidak jauh berbeda dengan pengertian di atas dalam laporan penelitian  America Library Association’s Presidental Commite on Information Literacy (1989:1) dikatakan bahwa “information literacy is a set of abilities requiring individuals to recognize when information is needed and have the ability to locate, evaluate, and use effectivelly the needeed information”.

    Berdasarkan pendapat di atas dapat dikatakan bahwa literasi informasi adalah seperangkat kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki seseorang untuk mengetahui kapan informasi dibutuhkan, kemampuan untuk menempatkan, mengevaluasi dan menggunakan secara efektif kebutuhan informasinya. Kemampuan ini sangat dibutuhkan oleh anak untuk belajar dan menimba ilmu di sekolah dan bersosialisasi dengan guru dan teman, maupun ketika belajar dirumah, berkomunikasi dengan teman dirumah dan juga orang tua.

     


     

    1. Generasi literat

    Jika mengacu pada pengertian beberapa ahli literasi informasi di atas, maka generasi literat merupakan generasi yang melek atau keberaksaraan terhadap informasi. Generasi ini tidak serta merta hadir dan ada disekitar kita, namun memerlukan sebuah proses yang namanya pembiasaan. Dari pembiasaan tersebut, kemudian muncul benih-benih kemampuan pada diri anak, dan jika terus dikembangkan maka akan menjadi sebuah kemampuan yang luar biasa pada anak yang kemudian menjadikan anak tersebut menjadi generasi literat.

    Literasi membantu kita memahami dunia, literasi juga membantu kita memahami diri kita sendiri dan mengungkapkan identitas kita, ide-ide kita dan budaya kita. Dengan perkataan lain literasi bukan lagi bermakna tunggal melainkan mengandung beragam arti (multi literacies). Literasi bisa berarti melek teknologi, politik, berpikiran kritis, dan peka terhadap lingkungan sekitar. Seseorang baru bisa dikatakan literat jika ia sudah bisa memahami sesuatu karena membaca dan melakukan sesuatu berdasarkan pemahaman bacaannya.

    Terbentuknya generasi yang literat merupakan sebuah keniscayaan, agar ke depan bangsa kita dapat bangkit dari keterpurukan bahkan bersaing dan hidup sejajar dengan bangsa lain. Menurut Seto Mulyadi (Annida online, Selasa, 30 Juni 2009), kesadaran literasi itu penting untuk ditumbuhkembangkan, karena bisa membuat anak-anak kita menjadi cerdas dalam melihat masalah dalam kehidupannya. Orang-orang yang memahami masalah secara otomatis mampu mencarikan solusi atas masalah-masalah tersebut. Anak-anak yang cerdas akan membuat bangsa kita maju.

    Para pakar pendidikan sepakat bahwa tingkat literasi yang rendah berkaitan erat dengan tingginya tingkat drop-out sekolah, kemiskinan, dan pengangguran. Ketiga kriteria tersebut adalah sebagian dari indikator rendahnya indeks pembangunan manusia. Menciptakan generasi literat merupakan jalan menuju masyarakat yang makmur, kritis dan peduli. Kritis terhadap segala informasi yang diterima sehingga tidak bereaksi secara emosional dan peduli terhadap lingkungan sekitar.

     

    1. Kebutuhan Literasi Anak di era informasi

    Kebutuhan literasi anak saat ini barangkali sangat berbeda dengan kebutuhan literasi anak masa lalu. Apalagi saat ini, hampir seluruh aspek kehidupan kita selalu berhubungan dengan teknologi informasi. Mau tidak mau anak-anak kita harus mengadaptasi hal tersebut. Apabila mereka tidak dibiasakan dan tidak dikenalkan dengan teknologi informasi kemungkinan mereka akan sulit menerima materi atau pelajaran dari guru.

    Disamping itu, saat ini jika kita amati materi atau pelajaran yang diberikan kepada anak-anak kita sungguh luar biasa susahnya. Banyak orang tua anak yang merasa kesulitan untuk mengajarkan kepada anak-anaknya tentang materi yang diberikan oleh sekolah. Banyak para orang tua juga ketika ditanya oleh anak-anak mereka tentang pekerjaan rumah yang diberikan oleh guru untuk diselesaikan dirumah, namun akhirnya para orang tua tidak dapat menjawab pertanyaan anak-anak mereka. Dan masih banyak perumpamaan lain tentang keterbatasan orang tua yang tidak dapat membantu anaknya menyelesaikan tugas rumah mereka. Hal ini disebabkan karena sebagian besar orang tua belum literat. Artinya para orang tua tidak memiliki kemampuan untuk mencari informasi melalui berbagai sarana teknologi informasi yang berkembang saat ini, kemudian menyampaikannya kepada anak mereka. Jika hal ini berlangsung terus menerus, maka akan sulit bagi para orang tua untuk dapat membantu anak-anak mereka belajar.

    Menurut Ketua umum UNESCO untuk Global E-Learning mengatakan bahwa dengan berkembangnya teknologi komputer dan informasi, maka literasi bisa dipetakan menjadi beberapa jenis, yaitu :

    1. Literasi teknologi, yaitu kemampuan untuk menggunakan internet dan mengkomunikasikan informasi.
    2. Literasi Informasi, yaitu keahlian untuk melakukan riset dan menganalisa informasi sebagai dasar pengambilan keputusan
    3. Literasi media, yaitu keahlian untuk menghasilkan, mendistribusikan, serta mengevaluasi isi koleksi pandang dengar (Audio Visual)
    4. Literasi Global, yaitu pemahaman akan saling ketergantungan manusia didunia global, sehingga mampu berpartisipasi di dunia global dan berkolaborasi
    5. Literasi kompentensi sosial dan tanggungjawab lebih kepada pemahaman etika dan pemahaman terhadap keamanan dan privasi dalam berinternet (McPerson, 2007).

    Di tengah keberagaman bentuk dan jenis informasi, maka kita dituntut tidak hanya dapat menbaca dan menulis bahan tertulis (dalam bentuk buku atau tercetak) saja, tetapi bentuk-bentuk lain seiring dengan perkembangan teknologi informasi. Menurut Eisenberg (2004) selain memiliki kemampuan literasi informasi, seseorang juga harus membekali dirinya dengan literasi yang lain seperti :

    1. Literasi visual merupakan kemampuan seseorang untuk memahami, menggunakan dan mengekspresikan gambar.
    2. Literasi media merupakan kemampuan untuk mengakses, menganalisis dan menciptakan informasi untuk hasil yang spesifik. Media tersebut adalah Televisi, radio, surat kabar, film, musik.
    3. Literasi komputer adalah kemampuan untuk membuat dan memanipulasi dokumen dan data melalui perangkat lunak pangkalan data dan pengolah data dan sebagainya. Literasi komputer juga dikenal dengan istilah literasi elektronik atau literasi teknologi informasi.
    4. Literasi Digital merupakan keahlian yang berkaitan dengan penguasaan sumber dan perangkat digital. Beberapa institusi pendidikan menyadari dan melihat hal ini merupakan cara praktis untuk mengajarkan literasi informasi, salah satunya melaui tutorial.
    5. Literasi Jaringan adalah kemampuan untuk menggunakan, memahami, menemukan dan memanipulasi informasi dalam jaringan misalnya internet. Istilah lainnya dari literasi jaringan adalah literasi internet atau hiperliterasi.

    Secara garis besar Bawden (2001) mengemukakan tiga jenis literasi berbasis keterampilan yaitu literasi media, literasi komputer dan literasi perpustakaan. Literasi perpustakaan memiliki dua pengertian, pengertian pertama adalah mengacu pada kemampuan dalam menggunakan perpustakaan dan menandai awal lahirnya literasi informasi yang menekankan pada kemampuan menetapkan sumber informasi yang tepat. Pengertian yang kedua berhubungan dengan keterlibatan perpustakaan dalam program literasi tradisioanal seperti pengajaran kemampuan membaca. Literasi perpustakaan biasanya disinonimkan dengan keterampilan perpustakaan dan instruksi bibliografis.

    Menurut Snavely dan Cooper (1997) literasi perpustakaan merupakan istilah alternatif untuk literasi informasi yang merupakan bentuk terbaru dari instruksi perpustakaan dan sumber informasi lainya. Saat ini kemauan literasi informasi merupakan sasaran atau tujuan yang ingin dicapai dalam program pendidikan pemustaka di perpustakaan. Pendidikan pemustaka saat ini mulai berkembang dan mencakup segala aspek mengenai pencarian informasi, untuk mempersiapkan pemustaka mencapai pembelajaran sepanjang hayat (Versosa, 2008: 12).

    1. Penanaman Budaya literasi

    Memiliki generasi literat bukan persoalan yang mudah seperti membuka telapak tangan, namun memerlukan proses yang panjang dan konsisten. Perlu sekali dilakukan pembudayaan sejak dini. Pembudayaan sejak dini perlu ditanamkan diberbagai lingkungan misalnya lingkungan keluarga dan lingkungan sekolah. Seperti yang disampaikan oleh Taylor bahwasanya untuk menumbuhkembangkan kemampuan literasi pada anak merupakan persoalan yang cukup kompleks, karena berhubungan dengan sejumlah faktor, seperti status sosial,ekonomi, bahasa, serta faktor-faktor budaya lainnya. Oleh karena itu menurut Taylor, perhatian program pendidikan literasi seharusnya tidak hanya bertumpu pada sekolah formal, tetapi juga harus melibatkan sumber daya keluarga, seperti mempertimbangkan bahasa dan budaya literasi masing-masing keluarga.

    Keluarga dalam segala kelebihannya merupakan ruang praksis sekaligus kunci penting dalam konteks perolehan dan penumbuhan kemampuan serta menanamkan tradisi literasi kepada anak-anak. Ruang praksis dimaksud yakni kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan aktivitas bahasa lisan, aktivitas berhitung, membaca dan menulis, pengenalan atau pengenalan ilmu dan penggunaan teknologi tepat guna lainnya. Lebih lanjut Taylor mengatakan bahwa penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua pada program pendidikan literasi anak-anaknya pada semua tahapan memiliki dampak positif pada anak kemampuan akademis anak-anak tersebut.

    Literasi Keluarga (Family literacy) adalah tentang uapaya yang dilakukan oleh keluarga menggunakan aktivitas literasi dan bahasa dalam kehidupan sehari-hari mereka. Literasi keluarga adalah tentang bagaimana suatu keluarga belajar, menggunakan aktivitas baca-tulis untuk melakukan tugas-tugas sehari-hari mereka, membantu anak-anak mengembangkan kemampuan baca-tulisnya, menggunakan aktivitas literasi untuk menjaga hubungan dengan satu sama lain dan dengan masyarakat, serta bagaimana meningkatkan kemampuan seseorang untuk berinteraksi, baik dengan organisasi dan institusi.

    Program literasi Keluarga mempromosikan kerjasama masyarakat untuk memberikan sistem pelayanan yang fleksibel dan mudah diakses di bidang literasi untuk keluarga dengan anak-anaknya. Program literasi Keluarga memberikan kesempatan berarti bagi anak-anak, orang tua mereka, anggota keluarga lainnya dan pengasuh untuk belajar dan tumbuh bersama. Menurut Taylor, program program pendidikan literasi keluarga akan membantu para orang tua dan wali murid dapat memahami dan mengembangkan peran mereka terhadap anak-anak mereka sebagai pendidik pertama, meningkatkan kemampuan dan kepercayaan mereka, serta dukungan bahasa dan keaksaraan belajar dan menemukan lebih banyak tentang bagaimana anak-anak dan orang dewasa belajar.

    Secara lebih rinci program literasi keluarga bertujuan untuk membantu membangun rasa percaya diri, khususnya para orang tua maupun anak-anak meningkatkan potensi dan kemampuan literasi mereka sehingga mereka menuai keberhasilan di sekolah, menawarkan pengembangan lebih hubungan yang lebih dekat dan lebih kuat dalam keluarga, membantu mempersiapkan anak-anak untuk sekolah, membantu keluarga memahami sistem sekolah dan peran mereka di dalamnya, serta menjaga dan melestarikan nilai-nilai luhur budaya keluarga lewat penggunaan literasi pada bahasa pertama.

    (http://www.aflo.on.literacy.ca/famlit/models.htm).

    1. Penutup

    Para anak di era informasi harus memiliki kemampuan literasi informasi, namun bukan saja sekedar melek baca dan tulis saja namun harus memiliki berbagai kemampuan literasi informasi yang lain, agar sebagai seorang anak mereka mampu untuk menyerap ilmu yang diajarkan di sekolah dengan baik. Paradigma baru literasi menghendaki agar kita tidak lagi berpuas diri pada kemampuan baca tulis saja melainkan juga penigkatan daya nalar anak, tentunya mensyaratkan proses peningkatan literasi yang berkesinambungan, dari jenjang  pendidikan dini hingga dewasa.


     

    Daftar pustaka

     

    American Library Association. (1989) “Presidential Committee on Information Literacy : Final Report.” www.ala.org/acrl/legalis.html – 69k

    Arsidi Ahmad. 2010. Skripsi Literasi informasi Anak di Perpustakaan SMAN 1 Yogyakarta

    David Bawden, (2001) Information and digital literacies: a review of concepts, Journal of Documentation, Vol. 57 Iss: 2, pp.218 – 259

     

    Hasugian, Jonner.2008. Urgensi Literasi Informasi dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi di Perguruan Tinggi, Pustaka Jurnal Studi Perpustakaan dan Informasi, vol.4. no.2. Diakses pada hari Senin, tanggal 23.00 Wib.

     

    http://www.aflo.on.literacy.ca/famlit/models.htm

    Seto Mulyadi dalam Kholid A. Harras. 2009. Family literacy : kiat menumbuhkan potensi dan kemampuan literasi anak-anak. Bandung, Universitas Pendidikan Indonesia

    Published on September 7, 2017 · Filed under: IAIN SAlatiga, Perpustakaan, Pustakawan;
    No Comments

Leave a Reply